Hujan gerimis turun membasahi kaca jendela kafe tempat mereka duduk berdua. Suasana remang-remang malam itu seolah mendukung keheningan canggung yang tercipta di antara Reyhan dan Clara.
Clara menatap selembar kertas kecil di tangannya. Tulisannya sangat jelas, sebuah instruksi sederhana yang menjadi awal dari kekacauan ini: Just pretend.
"Kita hanya perlu melanjutkan sandiwara ini sampai kontrak kerja sama perusahaan selesai, Rey," ucap Clara pelan, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.
Reyhan menatap tajam ke arah wanita di depannya. Matanya menyiratkan sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini mati-matian ia sembunyikan di balik senyum sinisnya. Ia tahu betul risikonya. Dari awal, hubungan ini memang dibangun di atas fondasi kepalsuan.
"Aku berbohong kepadamu, Clara," suara Reyhan terdengar parau, memecah lamunan wanita itu. "Aku bilang perasaanku ini palsu... tapi, apakah itu semua juga kebohongan pada diriku sendiri?"
Clara tertegun. Jantungnya berdegup kencang mendengar pengakuan itu. Batas antara sandiwara dan kenyataan mendadak menjadi kabur.